Selasa, Februari 07, 2012

Pencarian Berita

Banner
Banner
Banner

Nonton Piala Dunia Versus Produktivitas Bangsa

Oleh Bernard Simamora - Piala Dunia 2006 di Jerman akan segera berakhir. Tetapi gaungnya di negara kita, yang bahkan prakualifikasi peserta pun tidak masuk, mampu membuat masyarakat Indonesia sibuk hiruk-pikuk. Ada yang sampai terkantuk-kantuk di kantor, tidak kuat narik beca, bolos kerja, kena PHK, kena skorsing; bolos kuliah/sekolah; akibat nonton Piala Dunia 2006 di Jerman, lewat SCTV yang kini telah menjadi media yang merakyat. Bahkan kepolisian mendapat “proyek tambahan” menggerebek penjudi via SMS dan transfer, penjudi di arena nonton bareng, dan segala macam efek improduktif lainnya dari hajatan olah raga dunia itu.

Kitalah negara penonton, yang lebih sibuk dari negara peserta, bahkan dari tuan rumah, Jerman. Bagi dunia barat, jadwal pertandingan-pertandingan digelar siang hari. Jadwal itu bersamaan dengan pagi-subuh di Indonesia. Akibatnya, ritme biologis orang barat normal saja, sedang di Indonesia berubah – yang kemudian menimbulkan kantuk dan improduktif di siang hari.

Sampai kapan bangsa kita akan begini. Era informasi dan komunikasi yang seharusnya berdampak positif dan menaikkan produktifitas bangsa secara keseluruhan, justru yang terjadi sebaliknya. Televisi menjadi biangnya. Tontonan piala dunia hanyalah contoh kecil dan. Lebih parah, implikasi teknologi canggih dalam keseharian kita. Lihatlah bagaimana anak-anak SD menggenggam ponsel bernilai jutaan menghabiskan pulsa puluhan ribu per orang per harinya. Saksikanlah anak-anak muda di dalam kelas SMP, SMA dan kuliah justru chatting dan SMS-an, alih-alih memperhatikan pelajaran. Bayangkan kalau pada jam kantor sejumlah staf sibuk melayani panggilan HP dan SMS-an.

Lihatlah tontonan dan aksi panggung di televisi yang menggoda kebanyakan generasi muda untuk ngetop secara instan, alih-alih berpikir menjadi ilmuan atau profesional. Telisiklah succes story bintang-bintang iklan di televisi yang sim-salabim kaya mendadak secara instan. Sesekali, saksikanlah info selebriti yang hanyalah gosip murahan mampu menyita 20% jam tayang televisi kita. Tiliklah komposisi anggota DPR/DPRD yang diisi oleh selebriti (bila layak disebut demikian). Bayangkan, Agnes Monica baru-baru ini merayakan Ultahnya yang ke-20 di Puncak dengan biaya hampir setengah miliar!

Akhirulkalam, kebanyakan profesi yang membutuhkan proses belajar yang panjang, pelatihan yang menguras tenaga akhir-akhir ini telah kehilangan pamor dalam kaca mata anak muda Indonesia. Biasa dibayangkan, sepuluh dua puluh tahun ke depan. Kita akan krisis ilmuan, krisis dokter, dan krisis-krisis tenaga profesional lainnya, bahkan krisis kepala daerah dan pemimpin bangsa. Kelak, sepertinya Presiden, DPR/DPRD dan lain-lain mukin diisi para mantan peragawan-peragawati atau bahkan mungkin artis bom seks, atau tukang kawin cerai.

Mari kita sadari bersama, media elektronik tengah menggiring masyarakat kita ke arah pembelokan makna prestasi menjadi sekadar prestise. Makna prestasi menjadi just a deep skin. Dimana-mana sedang terjadi pendangkalan makna kerja keras. Sedang terjadi hedonisasi. Lupa diri, lupa peradaban bangsa. Kita tergiring bergaya seperti warga Perancis soal mode, bertindak seperti warga Jerman soal Piala Dunia, kita bergoyang seperti orang India soal menari, berpornoria seperti orang Hawai soal eksploitasi sensualitas tubuh. Media elektronik telah berhasil melakukan transformasi sosial yang mengerikan bagi kita sebagai bangsa.

Kita, lebih banyak menggunakan pesawat ponsel dari pada negara pembuatnya. Pengeluaran pulsa alat komunikasi kita satu tahun cukup untuk membiayai 2 minggu APBN, tetapi uangnya kita setorkan kepada pemegang saham operator-operator ponsel yang kebanyakan di manca negara. Ungkapan “Jayalah Indonesiaku” makin terasa sumbang terdengar. Layaknya, “Teruslah miskin Indonesiaku, melaratlah sepanjang waktu”. Sebab, sudah krisis, miskin, improduktif pula. Generasi muda juga tengah terbodohi atau membodohi dirinya.

Ini Indonesia! Tengah dalam krisis. Kelaparan. Pengangguran. Binggung Ujian Nasional. Putus Sekolah. Kriminalitas. Ini hidupku. Uang beras, uang sekolah, ongkos, beli buku; salahku kubelikan ponsel dan pulsa, sementara aku asyik-asyik nonton Piala Dunia di TV cicilan – dan listrik sudah nunggak ke PLN. (2006)

Bernard Simamora, pemerhati masalah sosial, tinggal di Bandung. E_mail: Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya

Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

Login Form