Jaksa Agung Akui Ada "Markus" di Kantornya
Jakarta - Jaksa Agung Hendarman Supandji, Senin, mengakui makelar kasus (markus) dan makelar jabatan ada di lingkungan Kejaksaan Agung tetapi sangat sulit membuktikan keberadaannya.
"Keberadaan markus baru bisa dibuktikan setelah adanya kasus, seperti kasus Pak Bibit dan Pak Chandra saat ini," kata Hendarman pada rapat kerja dengan Komisi III DPR, di Gedung DPR Senayan Jakarta, hari ini.
Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah adalah dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) non-aktif yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penyalahgunaan wewenang.
Hendarman mengungkapkan, dia sudah berusaha membersihkan markus di lingkungan Kejaksaan Agung tapi sulit membuktikan keberadaannya, dan hanya tercium baunya saja. Meskipun setiap pintu di gedung Kejaksaan Agung dipasangi tulisan "markus dilarang masuk", Kejaksaan Agung sulit melarangnya karena tidak mengetahui persis orang-orangnya. "Markus juga bisa bertemu dengan pejabat Kejaksaan Agung di luar gedung," kata dia.
Hendarman menilai, dalam kasus Bibit dan Chandra, "markus" baru terungkap setelah rekaman hasil sadapan KPK diperdengarkan pada sidang Mahkamah Konstitusi. Menurut dia, dari kasus-kasus yang terungkap, para markus terlibat dalam penyuapan atau pemerasan. "Saya pasrah dengan apa yang dilakukan markus, yang penting saya sudah menjalankan tugas negara dengan baik," kata Hendarman.
Dia mengaku berkali-kali telah berupaya membersihkan institusi pimpinannya dari markus, namun upaya ini menghadapi kendala moral dan kinerja jaksa. "Saya tidak bisa membaca satu persatu pribadi masing-masing jaksa, tapi siapapun jaksa yang terlibat markus akan saya tindak tegas sesuai dengan PP 30 Tahun 1980 tentang Disiplin Pegawai," katanya.
Hendarman juga mengingatkan jaksa di Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Negeri di seluruh Indonesia agar tidak terlibat markus.
"Tolong sampaikan ke daerah-daerah, kalau ada yang terkena markus, risikonya tangggung sendiri," katanya. (ANTARA News)
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
Terbaru
- Dana Bos Banyak Tidak Sesuai Kuota
- Pembunuh Aktivis di Garut Tertangkap
- Aktivitas Gunung Papandaian Naik
- Distan: Waspadai Hama Akibat Cuaca Ekstrem
- Aceh Diguncang 11 Kali Gempa Susulan
- Kota Ambon Tidak Layak Ibukota?
- Sakit, Nazaruddin Absen Sidang
- "Electronic Insomnia" Epidemi Baru Dari Abad 21
- Sistem Logistik Belum Efektif Lindungi Produk Lokal
- CEO Apple Mendapatkan Bonus Saham
Terpopuler
- Pemerintah Surati Facebook, Terkait Lomba Kartun Nabi Muhammad
- Dinkes Garut Diduga Rugikan Negara 2,7 Miliar
- Tahun Ajaran 2010/2011 SMK N 6 Bandung Siap Tampung 656 Siswa Baru
- Gerakan Massa Dukung KPK Berpotensi Gulingkan Presiden
- Tim Delapan Pegang Fakta Baru
- Jaksa Agung Akui Ada "Markus" di Kantornya
- SDN Dampit Juara I Banjarsari Cup Volly Ball Mini Ke V 2010
- Tuntutan Jaksa Dipertanyakan
Gaya Hidup
- 1
- 2

